SEBUAH KLARIFIKASI
SAYA MENULIS bukan karena telah mencapai jurus tinggi di lingkungan PS dahulu pada era Bang Asfan dan selaku pendiri dan Guru Besar PS, saya masih menganpu Kasaran empat saya sudah mulai menulis tentang PS. tulisn itu saya kumpulkan sedikit demi sedikit, karena pa yangsya tulis bermodaklan pristiwa demi pristiwa yang terjadi di lingkungan anggota dalam rangka ber PS ria. Tidak terlpas dari cerita senior dan teman teman terkait pengalaman mereka baik langsung mauopun tidak langsung. Pada saat sedang dalam proses penulisan saya tidak bercerita dengan siapapun, tetapi setelah saya anggap cukup banyak seketik sesempurna mungkin. Atas saran beberapa senior setelah sebelumnya saya minta periksa, komentar dan dukungan. Semua senior yang sempat saya tunjukkan konsep itu memuji dan menyetujui agar Bang Asfan memberikan persetujuan.
Ketika Bang Asfan datang kelampung saya yakin sudah ada senior yang membisikkan bahwa saya akan menyampaikan konsep tulisan dan akan meminta Guru Besar untuk menyetujui. Benar saja ketika saya menyampaikan konsep kepada beliau, Bang Asfan bilang, nanti tulisan ini mau saya baca terlebih dahulu. Berapa bulan berikutnya Bang Asfan kembali berkunjung ke Lampung dan saya sengaja memperlihatkan diri di sekitar Bang Asfan, beliau memanggil saya dengan nada datar datar saja, tulisansudah saya Baca .... silakan jika mau di cetak. Ingin saranya saya berjingkrak jingjrak kesenangan, tetapi alhamdulillah saya masih bisa membawa diri, walaupun dengan suara lembuat secara jelas saya mengucapkan Alhamdulillah.
Inilah buku pertama yang akan saya cetak, sedang karya karya tulis saya terkait tugas kedinasan dalam Bidang kebudayaan di Kanwil Depdikbud Provinsi Lampung, memang sudah lebih dahulu berhasil saya lakukan atas biaya Dinas. Saya terlibat dalam Tugas Inventarisasi Nilai Bilai Budaya Lampung yang hasilnya dibayar dan cetak Dengan Biaya Kedinasan. Dan ketika hasil hasil renungan dan saya tentang Prana Sakti diijinkan untuk dicetak oleh seorang Guru Besar PS maka kebahagiaan dan kebanggaan saya serasa lebih saya rasakan dibansing tugas kedinasan tadi.
Beliau hitung hitung masih keluarga, setidaknya itu yang saya rasakan bila jumpa Kanda Fauzi Fattah, watu beliau bujang dewasa seringkali singgah dan beristirahan di rumah saya, dan tak jauh di tempat saya tinggal ada gadis idaman yang kelak disunting menjadi isterinya. Bang Fauzi memberikan kemudahan bagi saya untuk mencetak buku yang saya susun, dan beliau adalah orang pertama di luar PS yang membaca habis naskah itu. Tolong saudara PS ikut mendoakan agar apa yang dilakukan oleh Abangda Fauzi yang intinya membantu PS di terima Allah sebagai amal yang sholeh.
Di mata Bang Zen jurus jurus yang saya buat tidaklah istimewa, kata beliau terus terang di depan saya langsung, tetapi apa yang mampir di kepalanya dan apa yang disimpan diingat ingatnya itulah yang luar biasa dari Fachruddin. Saya sangat bahagia sekali dengan gelar sebagai orang biasa biasa saja sebagai anggota PS, saya tahu diri saya ketika masuk PS di Lampung saya termasuk kelompok tua tua yang dalam memahami dan keterampilan membuat jurus termasuk yang lambat, setidaknya bersama seorang teman sejawat bernama Pak Sir Hamilton bisa menjadi saksi betaka sulitnya kami mensingkronkan jurus kaki dan tangan sebelum kami dlingkapi ABCDnya PS. Kami berdua heran sekali mengapa keterampilan itu seperti tina tiba saja datangnya setelah ada ABCD itu, tetapi itu juga yang membuat kami berdua menjadi semakin tertarik dengan jurus jurus PS, walaupun jurus kami berdua sama sekali masih kalah klear dibanding jurus jurus mereka yang lain.
Teruskanlah menulis tentang PS kata Bang Zen tidak akan ada mereka yang menggugat. Itu pulalah yang membuat saya seolah seperti memiliki hutang yang harus saya tunaikan, yaitu menulis tentang PS. Semakin terasa usia ini menua semakin sya merasa harus segera memenuhi janji itu, setidak satu naskah dari jumlkah tulisan yang sesungguhnya layak minimal menjadi dua judul. Semoga saja saya masih memiliki kemampuan mengirimi dua atau minimal dua judul tulisan kepada Bang Zen dan saya berharap Pengurus PS Lampung bisa mengupayakan naskah itu menjadi layak dikirim ke percetakan.
Bila pada masa Bang Asfan ada dua tulisan, mengapa di era Bang Zen harus dua tulisan juga mengapa tidak. Semoga Allah meredhoinya Wallohu a'lam bishowab.
Bandar Lampung, 28 Juli 2022.

Komentar
Posting Komentar