KH. ALI MAKSUM , AR FACHRUDDIUN DAN BUYA HAMKA SEBAGAI PELURUS AKIDAH PRANA SAKTI
Fachruddin.
Setelah merasa menguasai ilmu tenaga dalam yang didapatkannya dari gurunya, maka Asfanuddin Panjaitan muda mengkonsultasikan ilmu barunya itu dengan tiga tokoh ulama Islam yang terkenal memiliki sifat kebapaan, yaitu KH. Ali Maksum, Buya Hamka dan Ar. Fachruddin. Hal tersebut dilakukan oleh Asfanuddin panjaitan yang kelak dikenal sebagai pendiri dan Guru Besar Prana Sakti Indonesia. Alhasil tentu saja banyak sekali akidah akidah yang harus diluruskan oleh ketiga ulama yang terkenal mumpuni itu.
Maka muncullah Prana Sakti sebagai ilmu tenaga dalam yang telah terbersihkan dari berbagai klenak klenik. Siapa lagi yang mencucinya kalau bukan ketiga ulama besar tersebut di atas. Satu ulama NU dan dua orang ulama Muhammadiyah sangat meyakinkan Guru Besar Prana Sati itu sehingga label Islampun mulai ditempelkan ke Prana Sakti.
Pelurusan akidah yang dilakukan oleh ketiga tokoh ini tentu saja mempengaruhi tatacara pelatihan, semula pelatihan harus disertai berbagai bunga dan dupa, maka sejak saat itu benda benda itu ditiadakan, pakaianpun pada saat pelatihan juga tidak terlepas dari koreksi ketiga tokoh ini. Apalagi bacaan doa serta ikrak Prana Sakti harus sama sekali clear dari syirik dan khurafat.Dan Prana Saktipun berketetapan untuk tidak menggunakan bacaan bacaan tertentu yaang apabila dibacakan pada saat tertentu, dengan cara tertentu atau di tempat tertentu lalu diyakini akan mendatangkan tenaga tertentu pula. Tidak, Prana sakti tidak mengajarkan hal tersebut karena ketiga tokoh tersebut melarangnya.
Tetapi masih ampuhkan tenaga dalam Prana sakti manakala mengalami perubahan prubahan yang diametral tersebut ?. Ternyata hasilnya justeru sangat luar biasa. Memang harus melalui proses proses ujicoba terhadap jurus setelah pelurusan akidah secara besar besaran itu. Jurus diujicobakan terhadap binatang seperti ular, anjing, tawon dan bahkan konon juga harimau. Apakah jurus jurus Prana sakti masih memiliki pengaruh terhadap sikap kasar dan permusuhan yang biasanya sangat agresip itu. perbaikan akidah juga diiringi dengan perbaikan sikap batin yang ” hanya berillah kepada Allah” juga perubahan dilakukan pada aspek kuda kuda, gerakan tangan dan kaki dan lain sebagainya
Ada cerita cerita lucu dalam ujicoba jurus itu, antara lain setelah pelatihan jurus lalu diujicobakan kepada anjing yang betul betul garang, ternyata anjing itu melompat menyerang, ada yang tangannya dientup tawon ada yang nyaris dicekik preman. Lalu juruspun dibenahi, sampai akhirnya juruspun dinyatakan final. setelah dengan mudahnya memindahkan sejumlah tawon dari satu tempat ketempat lain hanya menggunakan kedua telapak tangan, aniing yang katanya tidak mengenal kompromi dapat diperintahkan untuk tetap duduk ditempat.
Drs. Tarmizi Ahmar (almarhum) bercerita, Ia masuk Prana Sakti setelah jurus jurus itu dinyatakan final. Setelah jurus dasar 1 – 10 mampu dilaksanakannya, Ia pun dipersilakan mencarui musuh, tetapi pada saat itu Ia tidak mencari musuh, hanya mendatangi beberapa orang preman yang selama ini ditakutinya, dan juga ditakuti oleh banyak orang, benar saja beberapa orang preman yang sedang duduk duduk itu dibentak bentaknya, padehal dahulunya, jangankan untuk membentak, lewat di gang itu saja dia tak sanggvup. Cerita lain, Ada juga yang dengan mudahnya mengusir preman yang sedang menunggu mangsa, dan memaksa preman itu untuk pulang ke rumah. Padehal preman preman disitu terkenal garang dan tega. Uji coba ujicoba itupun akhirnya tidak luput dari koreksi ketiga ulama tersebut di atas.
Kini uji caba semacam itu telah ditiada, ketiga kiyai yang harismatik itu melarangnya. K etika saya masuk Prana Sakti ujicoba yang tersisa adalah mengetes tenaga dalam yang mampu diraih oleh anggota baru, dengan cara mencoba untuk mencederai anggota baru. Tetapi anggota baru itu diajarkan untuk konsentrasi berserah diri kepada Allah, sementara algojonya diharuskan meniatkan itu secara sungguhan. Senior yang dipilih adalah senior yang memiliki kemampuan untuk memiliki kemarahan yang tinggi, dengan cara mengingat sesuatu yang menurutnya memang harus diserang. Maka algojo yang kesetanan itu akan terpelanting. sedalam kebencian yang dimilikinya, sejauh itu pula badannya terpental pental. Ujicoba seperti itupun segera ditinggalkan. Kata ketiga Kiyai itu melatih seseorang untuk berserahdiri kepada Allah itu baik. Tetapi melatih seseorang untuk memiliki rasa benci itu justeru bertentangan dengan Islam. Maka peragaan ujicoba itupun segera dihapuskan juga.
Kini latihan Prana sakti bukan untuk hal hal seperti itu, tetapi lebih mengarah kepada upaya membina diri agar memiliki keterikatan dan komitmen untuk takwa yang sebenarnya takwa. Kini jurus Prana sakti telah dinyatakan final. Oleh karenanya diharapkan kepada seluruh anggota Prana sakti tidak lagi merubah rubahnya, apalagi menambahkan bacaan bacaan tertentu, hatta bacaan itu penggalan penggalan dari ayat ayat al-Quran karena Prana sakti tidak mengenal khaddam dan semacamnya. marilah ilmu Prana sakti yang telah mengalami proses panjang dalam upaya pembakuan ini kita pelihara bersama, agar tidak mencemari akidah islamiyah, yang menjadi core Prana Sakti itu sendiri.
Bandar Lampung 08 Juni 2011
Komentar
Posting Komentar